Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Agustus 2011

Fungsi Linear


1.     Definisi Fungsi Linear
Fungsi Linear adalah suatu fungsi yang memiliki 2 variable atau lebih yang masing-masing variable nilainya saling mempengaruhi dan variable bebasnya memiliki pangkat paling tinggi adalah satu. Dikatakan Linear karena grafik fungsinya dalam diagram Cartesius memiliki bentuk yang lurus.
Bentuk persamaannya  :
                           y = ax + b
            Dimana ;
            y = Variable tidak bebas
            x = Variable bebas
            a dan b = konstanta.
Contoh :
a.      F (x) = 6x + 3
b.      F (x) = x + 1
Ciri-ciri persamaan linear  :
1.       Apabila a > 0 maka garis akan bergerak dari bawah ke kanan atas.
2.       Apabila a < 0 maka garis akan bergerak dari kiri atas ke kanan bawah.
3.       Apabila a1 ≠ a2 maka garis akan berpotongan.
4.       Apabila a1 = a2 maka garis akan sejajar.
5.       titik b merupakan perpotongan pada sumbu y.
Contoh soal persamaan linear
x
1
2
3
y
9
11
13
1.            a.            Tentukan persamaannya !
                b.            Gambarkan grafiknya !



Jawab  :
y    =  ax + b                                         9    =   a + b
9    =  a + b                                           11  =   2a + b    _
11  =  2a + b                                         -2   =  -a
13  =  3a + b                                         a    =  2
                                                                9  =  a + b
                                                                9  =  2 + b
                                                                B  =  7
                                                                Jadi persamaannya  y  2x + 7

2.     Penggambaran Fungsi Linear
Penggambaran fungsi linier dari berbagai alternatif untuk ax dan b
a.      Description: mat1.jpgF (x) = 4 + 2 x ;dua buah titik yang dibutuhkan untuk menggambarkannya (0,4) dan (-2,0)


b.      Description: mat2.jpgF (x) = 4 –2x; dua buah titik yang dibutuhkan untuk menggambarkannya (0,4) dan (2,0)



c.       Description: mat3.jpgF (x) = -4 + 2 x dua buah titik yang dibutuhkan untuk menggambarkannya (0,-4) dan (2,0)


d.      Description: mat4.jpgF (x) = -4 – 2X dua buah titik yang dibutuhkan untuk menggambarkannya (0,-4) dan (2,0)




Kesimpulan : Untuk fungsi linier Y = ax + b, b : intersep dan a : gradien/kemiringan.
Intersep a0 merupakan titik potong antara fungsi linier dengan sumbu Y di atas sumbu datar X
Ø  b positif maka perpotongan fungsi linier dengan sumbu Y di atas sumbu datar X
Ø  b negatif maka perpotongan fungsi linier dengan sumbu Y di bawah sumbu datar X
Ø  Jika b nol maka perpotongan antara fungsi linier dengan sumbu Y pada titik (0,0)
Gradien a merupakan kemiringan fungsi linier terhadap sumbu X
3.     Hubungan Dua Fungsi Linear
Ada dua fungsi linier dimana fungsi linier pertama yaitu, f (x) = ax + b  dan fungsi linier yang kedua yaitu f (x) = ax + b. Kedua fungsi linier berada dalam berbagai keadaan.
a.      Description: mat5.jpgBerhimpit
Karena berimpit, maka a0 = a0’ dan a1 = a1’
Contoh:
Fungsi linier I : f (x)  = 4 + 2X
Description: mat6.jpgFungsi linier II : f (x) = 8 + 4 X, intersep 8/2 = 4 ; gradien 4/2 = 2
b.      Sejajar
karena sejajar, maka a0= a1’ dan a1 = a1’
Contoh:
Fungsi linear I : Y = 4 + 4 X, intersep 4 dan gradien 4
Description: mat7.jpgFungsi linier II : Y = 2 + 4 X, intersep 2 dan gradien 4
c.       Berpotongan
Karena berpotongan, maka a1 = a1’
Contoh :
Fungsi linear I : f(x) = 4 + 4X, intersep 4, gradien 4
Fungsi linear II: f(x) = 2 – 4 X, intersep 2 , gradien –4
Berimpit, dua buah garis akan berimpit apabila persamaan garis yang satu merupakan
kelipatan dari (proporsional terhadap) persamaan garis yang lain.
Sejajar, dua buah garis akan sejajar apabila kemiringan garis yang satu sama dengan kemiringan garis yang lain (m1 = m2).
Berpotongan, dua buah garis akan berpotongan apabila kemiringan garis yang satu tidak sama dengan kemiringan garis yang lain (m1 ?m2).
Tegak lurus, dua garis akan saling tegak lurus apabila kemiringan garis yang satu merupakan kebalikan dari kemiringan garis yang lain dengan tanda yang berlawanan
Atau nilai perkalian kemiringannya menghasilkan –1 (m1 x m2 = -1).

4.     Titik Potong Fungsi Linear
Untuk fungsi linear yang saling berpotongan dapat dilakukan dengan cara:
a.      Subsitusi
b.      Eliminasi
Contoh:
Carilah titik potong dari dua garis yang berpotongan yaitu 2X + 3 Y = 4 dan X + 2 Y = 1
Jawab:
a.      Cara subsitusi
2X + 3Y = 4 ………….(1)
x + 2 Y= 1 >>>  x = 1 – 2 Y …………..(2)
Masukkan (2) pada (1)
2 X + 3 Y = 4                             Sehingga X = 1 – 2 Y
2 ( 1-2 Y) + 3Y = 4                                   X = 5
2-4Y+3Y = 4
2 - Y = 4
Y = -2
b.      Description: mat8.jpgEliminasi




5.     Menentukan Persamaan Garis
Sebuah persamaan linier dapat dibentuk melalui beberapa macam cara, antara lain: (1) metode dua titik dan (2) metode satu titik dan satu kemiringan.
Metode Dua Titik
Apabila diketahui dua titik A dan B dengan koordinat masing-masing ( x1,  y1) dan ( x2,  y2), maka rumus persamaan liniernya adalah:



misal diketahui titik A (2,3) dan titik B (6,5), maka persamaan liniernya adalah:
Metode Satu Titik dan Satu Kemiringan
Dari sebuah titik A (x1, y1) dan suatu kemiringan (m)dapat dibentuk sebuah persamaan linier
dengan rumus sebagai berikut: 
Misal diketahui titik A (2,3) dan kemiringan m=0,5 maka persamaan liniernya adalah:


Minggu, 31 Juli 2011

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS


PENTINGNYA PENDIDIKAN BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Keterbatasan layanan pendidikan sekolah luar biasa yang umumnya berlokasi di pusat kota/kabupaten menyebabkan banyak anak berkebutuhan khusus tak bisa mengakses pendidikan sesuai kebutuhannya. Untuk itu, sekolah-sekolah reguler yang keberadaannya hingga ke pedalaman perlu dioptimalkan juga untuk dapat melayani anak-anak berkebutuhan khusus tersebut.
Namun, keterbatasan pemahaman guru mengenai hak-hak anak berkebutuhan khusus serta kemampuannya menangani kekhususan itu menyebabkan pihak sekolah enggan melayani. Akibatnya, anak-anak berkebutuhan khusus tertinggal dalam layanan pendidikan yang seharusnya juga menjadi hak mereka sebagai warga negara.
Berdasarkan Undang Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan Undang– Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dapat disimpulkan bahwa negara memberikan jaminan sepenuhnya kepada anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh layanan pendidikan yang bermutu. Hal ini menunjukkan bahwa anak berkebutuhan khusus atau anak luar biasa berhak pula memperoleh kesempatan yang sama dengan anak lainnya dalam pendidikan.
Selama ini, layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di Indonesia disediakan melalui tiga macam lembaga pendidikan yaitu, Sekolah Luar Biasa (SLB), Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), dan Pendidikan Terpadu. SLB, sebagai lembaga pendidikan khusus tertua, menampung anak dengan jenis kelainan yang sama sehingga ada SLB untuk anak dengan hambatan penglihatan (Tunanetra), SLB untuk anak dengan hambatan pendengaran (Tunarungu), SLB untuk anak dengan hambatan berpikir/kecerdasan (Tunagrahita), SLB untuk anak dengan hambatan (fisik dan motorik (Tunadaksa), SLB untuk anak dengan hambatan emosi dan perilaku (Tunalaras), dan SLB untuk anak dengan hambatan majemuk (Tunaganda). Sedangkan SDLB menampung berbagai jenis anak berkebutuhan khusus. Sementara itu pendidikan terpadu adalah sekolah reguler yang juga menampung anak berkebutuhan khusus, dengan kurikulum, guru, sarana pengajaran, dan kegiatan belajar mengajar yang sama. Namun selama ini baru sedikit sekolah yang mau menampung anak berkebutuhan khusus. Sebagian besar yang lain masih menolak dan keberatan menerima anak berkebutuhan khusus di sekolah regular (umum).
Pada umumnya, lokasi SLB berada di ibu Kota Kabupaten, padahal anak–anak berkebutuhan khusus tersebar hampir di seluruh daerah (kecamatan/desa), tidak hanya di ibu kota kabupaten. Akibatnya sebagian dari mereka, terutama yang kemampuan ekonomi orang tuanya lemah, terpaksa tidak disekolahkan karena lokasi SLB jauh dari rumah, sementara kalau akan disekolahkan di SD terdekat, sekolah tersebut tidak bersedia menerima karena merasa tidak mampu melayaninya. Sebagian yang lain, mungkin selama ini dapat diterima di sekolah terdekat, namun karena ketiadaan guru pembimbing khusus akibatnya mereka beresiko tinggal kelas dan akhirnya putus sekolah. Permasalahan di atas dapat berakibat pada kegagalan program wajib belajar.
Untuk mensukseskan wajib belajar pendidikan dasar, dipandang perlu meningkatkan perhatian terhadap anak berkebutuhan khusus, baik yang telah memasuki sekolah reguler (SD) tetapi belum mendapatkan pelayanan pendidikan khusus maupun yang belum mengenyam pendidikan sama sekali karena tidak diterima di SD terdekat atau karena lokasi SLB jauh dari tempat domisilinya.
Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional memberikan warna lain dalam penyediaan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Pada penjelasan pasal 15 tentang pendidikan khusus disebutkan bahwa :

pendidikan khusus merupakan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah.

Pasal inilah yang memungkinkan terobosan bentuk pelayanan pendidikan bagi anak berkelaianan berupa penyelenggaraan pendidikan inklusi. Secara lebih operasional, hal ini diperkuat dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 tahun 2009 tanggal 5 Oktober 2009 tentang Pendidikan inklusif bagi Peserta Didik yang memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa. Diantara pasal-pasal dalam Permendiknas Nomor 70 tahun 2009 pasal 4 disebutkan bahwa :

pemerintah Kabupaten/Kota menunjuk paling sedikit 1 (satu) sekolah dasar dan 1 (satu) sekolah menengah pertama pada setiap kecamatan dan 1 (satu) satuan pendidikan menengah untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif yang wajib menerima peserta didik sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 ayat (1).
                    

Selanjutnya dikatakan  pasal 4 ayat 2 bahwa :

satuan pendidikan selain yang ditunjuk oleh Kabupaten/kota dapat menerima peserta didik sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 ayat (1).

Selama ada kepedulian, sekolah reguler sebenarnya bisa saja melayani anak-anak berkebutuhan khusus. Sejumlah sekolah di Kabupaten Madiun nyatanya sudah mulai sadar perlunya menerapkan pendidikan inklusi yang membaurkan anak-anak reguler dengan anak berkebutuhan khusus.
Menurut hasil wawancara yang telah kami lakukan pada Observasi kemarin di SDLB Negeri Karang Rejo, sebenarnya sekolah – sekolah yang menerapkan pendidikan insklusif itu perlu diperluas. Karena seperti yang sudah saya jelaskan pada yang tadi bahwa Anak Berkebutuhan khusus itu bukan hanya di kota saja, masih banyak daerah – daerah yang belum menerapkan pendidikan inklusif ini. Bukan dari guru yang tidak mau, tetapi karena guru belum mempunyai skill dalam melatih ABK – ABK ini. Disinilah Pemerintah diuji, apakah bisa mengatasi masalah ini atau tidak. Pemerintah dituntut untuk bisa memberikan suatu terobosan atau paling tidak pemerintah memberikan pembekalan kepada guru – guru yang dianggap mampu untuk diberi bekal tentang cara menangani ABK – ABK ini, sehingga mereka tidak terlantar. Disamping itu ada juga sekolah yang tidak ditunjuk sebagai sekolah inklusi oleh pemerintah setempat tetap bersedia menerima anak-anak berkebutuhan khusus.
Sekolah inklusi adalah sekolah reguler yang mengkoordinasi dan mengintegrasikan siswa reguler dan siswa penyandang cacat dalam program yang sama, dari satu jalan untuk menyiapkan pendidikan bagi anak penyandang cacat adalah pentingnya pendidikan inklusi, tidak hanya memenuhi target pendidikan untuk semua dan pendidikan dasar 9 tahun, akan tetapi lebih banyak keuntungannya tidak hanya memenuhi hak-hak asasi manusia dan hak-hak anak tetapi lebih penting lagi bagi kesejahteraan anak, karena pendidikan inklusi mulai dengan merealisasikan perubahan keyakinan masyarakat yang terkandung di mana akan menjadi bagian dari keseluruhan, dengan demikian penyandang cacat anak akan merasa tenang, percaya diri, merasa dihargai, dilindungi, disayangi, bahagia dan bertanggung jawab.
Inklusi terjadi pada semua lingkungan sosial anak, Pada keluarga, pada kelompok teman sebaya, pada sekolah, pada institusi-institusi kemasyarakatan lainnya. Sebuah masyarakat yang melaksanakan pendidikan inklusi berkeyakinan bahwa hidup dan belajar bersama adalah cara hidup (way of life) yang terbaik, yang menguntungkan semua orang, karena tipe pendidikan ini dapat menerima dan merespon setiap kebutuhan individual anak. Dengan demikian sekolah atau pendidikan menjadi suatu lingkungan belajar yang ramah anak-anak. Pendidikan inklusi adalah sebuah sistem pendidikan yang memungkinkan setiap anak penuh berpartisipasi dalam kegiatan kelas reguler tanpa mempertimbangkan kecacatan atau karakteristik lainnya. Disamping itu pendidikan inklusi juga melibatkan orang tua dalam cara yang berarti dalam berbagi kegiatan pendidikan, terutama dalam proses perencanaaan, sedang dalam belajar mengajar, pendekatan guru berpusat pada anak.
Dengan demikian pelayanan pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tidak lagi hanya di SLB tetapi terbuka di setiap satuan dan jenjang pendidikan baik sekolah luar biasa maupun sekolah reguler/umum.
Dengan adanya kecenderungan kebijakan ini, maka tidak bisa tidak semua calon pendidik di sekolah umum wajib dibekali kompetensi pendidikan bagi ABK.
Minimnya sarana penunjang sistem pendidikan inklusi, terbatasnya pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki oleh para guru sekolah inklusi menunjukkan betapa sistem pendidikan inklusi belum benar – benar dipersiapkan dengan baik. Apalagi sistem kurikulum pendidikan umum yang ada sekarang memang belum mengakomodasi keberadaan anak – anak yang memiliki perbedaan kemampuan (difabel). Sehingga sepertinya program pendidikan inklusi hanya terkesan program eksperimental.
Kondisi ini jelas menambah beban tugas yang harus diemban para guru yang berhadapan langsung dengan persoalan teknis di lapangan. Di satu sisi para guru harus berjuang keras memenuhi tuntutan hati nuraninya untuk mencerdaskan seluruh siswanya, sementara di sisi lain para guru tidak memiliki ketrampilan yang cukup untuk menyampaikan materi pelajaran kepada siswa yang difabel. Alih – alih situasi kelas yang seperti ini bukannya menciptakan sistem belajar yang inklusi, justeru menciptakan kondisi eksklusifisme bagi siswa difabel dalam lingkungan kelas reguler. Jelas ini menjadi dilema tersendiri bagi para guru yang di dalam kelasnya ada siswa difabel.
Jika pemerintah memang serius dalam melaksanakan program pendidikan inklusi, maka yang harus dilakukan adalah dengan menjalankan tahapan – tahapan pelaksanaan pendidikan inklusi secara konsisten mulai dari sosialisasi hingga evaluasi pelaksanaannya. Namun yang lebih penting dan secara langsung dapat dilakukan oleh para guru untuk mewujudkan pendidikan inklusi adalah dengan menciptakan suasana belajar yang saling mempertumbuhkan (cooperative learning). Cooperative Learning akan mengajarkan para siswa untuk dapat saling memahami (mutual understanding) kekurangan masing – masing temannya dan peduli (care) terhadap kelemahan yang dimiliki teman sekelasnya. Dengan demikian maka sistem belajar ini akan menggeser sistem belajar persaingan (competitive learning) yang selama ini diterapkan di dunia pendidikan kita. Dalam waktu yang bersamaan competitive learning dapat menjadi solusi efektif bagi persoalan yang dihadapi oleh para guru dalam menjalankan pendidikan inklusi. Pada akhirnya suasana belajar cooperative ini diharapkan bukan hanya menciptakan kecerdasan otak secara individual, namun juga mengasah kecerdasan dan kepekaan sosial para siswa.
Menurut Staub dan Peck (1994/1995) ada lima manfaat atau kelebihan program inklusi yaitu:
1.     Berdasarkan hasil wawancara dengan anak non ABK di sekolah menengah, hilangnya rasa takut pada anak berkebutuhan khusus akibat sering berinteraksi dengan anak berkebutuhan khusus.
2.    Anak non ABK menjadi semakin toleran pada orang lain setelah memahami kebutuhan individu teman ABK.
3.    Banyak anak non ABK yang mengakui peningkatan selfesteem sebagai akibat pergaulannya dengan ABK, yaitu dapat meningkatkan status mereka di kelas dan di sekolah.
4.    Anak non ABK mengalami perkembangan dan komitmen pada moral pribadi dan prinsip-prinsip etika.
5.    Anak non ABK yang tidak menolak ABK mengatakan bahwa mereka merasa bahagia bersahabat dengan ABK
Dengan demikian orang tua murid tidak lagi khawatir bahwa pendidikan inklusi dapat merugikan pendidikan anaknya justru malah akan menguntungkan.
Salah satu solusi yang paling mudah unruk memberikan pendidikan pada anak berkebutuhan khusun  adalah melalui guru atau keluarga yang terdekat dengan anak berkebutuhan khusus tersebut.
Seharusnya setiap perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang mempunyai program study pendidikan, diwajibkan untuk memberikan mata kuliah tentang Pentingnya Pendidikan bagi setiap anak di Indonesia, bukan hanya anak yang normal saja tetapi anak yang berkebutuhan khusus pun harus diberi bimbingan yang sama melalui pendidikan inklusif, sehingga pengentasan insan buta huruf dapat dikurangi.
Selain itu masih banyak permasalahan yang dihadapi, misalnya saja di desa tempat saya bermukim. Disitu ada anak berkebutuhan khusus, tetapi karena minimnya pengajar serta sarana dan prasana yang memadai sehingga anak berkebutuhan khusus ini tidak bisa mengenyam pendidikan secara optimal seperti teman – teman sebayanya yang lain.